The Colour Of Indonesia menghadirkan situs terkait yang berhubungan langsung dengan Pemerintah Indonesia mengenai kepariwisataan dan Investasi Indonesia.
Berikut Link Terkait Kami :


1. Sumatera

2. Jawa 

3. Bali - Nusa Tenggara

4. Kalimantan

5. Sulawesi

6. Maluku

7. Papua

The Colour Of Indonesia berkomitmen untuk memberikan informasi yang terbaik bagi Indonesia
0 comments

The Colour Of Indonesia menghadirkan persembahan untuk Pahlawan Indonesia galih lebih dalam Sejarah Tokoh Indonesia


Bung Hatta dan Sepatu Bally
Sebuah Catatan Memperingati HUT RI-69

Terkadang bangsa ini melupakan sosok proklamtor ini. Tanpa sosoknya bangsa ini tidak akan dapat menikmati kemerdekaan hingga saat ini. Kami sengaja mengangkat kisah keteladanan Bung Hatta sebagai hadiah kemerdekaan buat bangsa ini.


THE COLOUR OF INDONESIA
Published 2012-2014

0 comments
Bung Hatta dan Sepatu Bally
Sebuah Catatan Memperingati HUT RI-69



Terkadang bangsa ini melupakan sosok proklamtor ini. Tanpa sosoknya bangsa ini tidak akan dapat menikmati kemerdekaan hingga saat ini. Kami sengaja mengangkat kisah keteladanan Bung Hatta sebagai hadiah kemerdekaan buat bangsa ini.

Kepulangan Bung Hatta 34 tahun silam, tepatnya 14 Maret 1980 dan dimakamkan di Tanah Kusir, meninggalkan duka yang teramat dalam bagi Bangsa Indonesia. Sang Proklamator “Bung Hatta” telah meninggalkan hadiah yang luar biasa bagi  kita yaitu “Kemerdekaan”.
Banyak yang tidak begitu mengenal namanya sebagai Proklamtor, jika bukan hanya nama “Bung Karno” yang selalu tertanam dalam hati Bangsa Indonesia. Setidaknya kita jangan “melawan lupa”. Bahwa tanpa jasa beliau negara ini juga tidak akan merdeka. Kita mungkin tidak dapat menikmati dan mengisi pembangunan ini tanpa jasa beliau.

Bung Hatta lahir di Bukit Tinggi , 12 Agustus 1902 dengan nama Muhammad Athar. Hatta kecil adalah anak dari seorang priyai dan cucu ulama terpandang di daerah itu. Kakeknya Abdurahman Batuhampar adalah pendiri Surau Batuhampar. Ketika itu sangat sedikit surau yang bertahan pasca Perang Padri.

Sebagai anak seorang priyai tentunya ia mempunyai akses yang terbuka luas untuk dapat menempuh pendidikan hingga tingkat tinggi. Mohammad Hatta pertama kali menempuh pendidikan formal di sekolah swasta bersama kakaknya Rafiah. (Muhammad Hatta adalah anak kedua dari seorang Ayah yang bernama Muhammad Djamil dan Ibu yang bernama Siti Saleha. Lalu ketika Hatta berumur tujuh bulan ayahnya meninggal dan ibunya menikah kembali dengan Agus Haji Ning seorang pedagang asal Palembang). Setelah itu ia melanjutkan ELS dan MULO sampai tahun 1917. Karena dibesarkan dari lingkungan ulama dan pedagangan dari ayah tirinya. Hatta muda banyak dipengaruhi oleh ajaran perekonomian. Bahkan ia tergabung  dalam anggota serikat muda Jong Sumtera Bond dan ditunjuk sebagai bendahara. Kegiatannya tetap dilakukan ketika ia bersekolah di Prins Hendrik School Jakarta. Setelah itu Hatta muda melanjutkan pendidikannya ke Handels Hoogeschool sekarang sekolah ini bernama Universitas Erasmus Rotterdam.

Banyak yang tidak tahu Bahwa Hatta Muda sering mengalami pergolakan dalam dirinya. Ia merasa seharusnya sebagai Generasi Muda dapat memberikan kontribusi yang nyata bagi perjuangan kemerdekaan Indonesia. Tidak heran, jika Hatta muda sering mengalami pengasingan akibat perjuangannya.
Salah satu pengasingan terhebat ia terima ketika ia dikirim ke Digul, Irian Jaya pada tahun 1932-1941. Bersama Syahrir ia dibuang ke Digul dan Banda Neira dengan alasan tidak bisa bekerjasama dengan Belanda dan dicap sebagai Komunis. Di Digul ia banyak menulis pemberitaan untuk surat kabar dan majalah di Jakarta. Hatta sangat peduli dengan tahanan dan mengajarkan ilmu yang ia punya untuk tahanan di sana.

Kembali Ke
Tokoh Indonesia
Mohammad Hatta adalah sosok yang bersahaja dan sederhana. Tidak jarang ia bersebelahan atau berbeda pandangan politik dengan Bung Karno. Termasuk ketika Bung Karno cenderung ke paham komunis dengan membentuk Poros Jakarta-Beijing. Bapak Koperasi ini tetap menghormati Bung Karno sebagai seworang teman dan kawan.
Muhammad Hatta sangat memimpikan sepatu idamannya “Bally” sebuah sepatu berkelas yang banyak dipakai oleh para Pejabat, CEO maupun Direktur di negeri ini. Tetapi hingga akhir hayatnya suami dari Rachmi Rachim ini tidak dapat membelinya dan hanya mengumpulkan lewat lipatan guntingan koran yang terlihat rapih di dompetnya. Ironis memang jabatan sebagai seorang Wakil Presiden pada waktu itu tidak mampu membeli sepatu Bally idaman.

Hal ini begitu kontras dengan keadaan masa sekarang, begitu banyak orang yang berlomba untuk mencari kekayaan tanpa tahu darimana kekayaan itu berasal. Tidak sedikit generasi muda yang terperosok kepada Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Dekadensi bangsa ini semakin hari semakin tajam. Moral dan Keimanan yang seharusnya  menjadi integritas dalam menentukan arah bangsa. Seakan tidak tahu mau ke mana bangsa ini dibawa. Arah dan tujuan semakin kabur.
Catatan kemerdekan setelah 69 tahun, bangsa ini memang telah mengalami kemajuan. Banyak para inovator muda yang telah mengharumkan nama Indonesia di mata Internasional. Tetapi tidak untuk moral dan keimanan, Moral-Keimanan dengan Rutinitas Duniawi seakan bentuk yang terpisah. Dikotomi keduanya nampak jelas. Banyak orang yang bergelar Profesor bahkan Haji sekalipun yang melakukan kebohongan publik. Terlebih lagi atas nama agama. Para Elite politikpun semakin berlomba untuk berpendapat yang benar. Bahkan Presiden maupun Mantan Presiden saling bersih tegang lantaran ketersinggungan. Coba kita renungkan bagaimana bangsa ini mau besar.

Bung Hatta telah mengajarkan kepada kita. Begitu tidak sepahamnya ia dengan Bung Karno, tetapi ia tidak akan memperlihatkan itu kepada rakyat Indonesia. Bahkan keluarganya sekalipun tak pernah ia ceritakan. Baginya Bung Karno adalah panutan dan teman seperjuangan yang harus dihormati. Begitu sederhana beliau dimana sampai akhir hayatnya “Sepatu Bally” tidak dapat ia beli, seharusnya kita lebih banyak belajar dari kisah ini.....

Merdeka !


0 comments