“Process Is Better Than Result”
Penulis


Heboh kasus Soal Matematika milik seorang Murid SD “Habibi” telah menjadi perbincangan yang ramai dibicarakan di Media Sosial 3 hari terakhir ini. Foto Soal Matematika yang diunggah di Media Sosial Facebook menimbulkan banyak komentar baik itu menyalahkan maupun membenarkan Guru dalam menganalisa soal tersebut.

Tidak tanggung 2 Prosefor ternama “Prof Iwan Pranoto –  Pakar - Dosen Matematika ITB dan Prof Yohanes Surya – Pakar Fisika” berdebat dalam pemahaman soal ini.

Jawaban dari soal Matematika yang disalahkan milik Habibie ini tidak dipungkuri memang menimbulkan polemik di tengah Masyarakat saat ini. Begitu juga dengan saya yang pertama kali berdebat keras dengan Istri ketika melihat salah satu Postingan dari seorang teman Facebook milik Nyoman Sinatra. Akhirnya saya mengiyakan dari analis Isteri tentang jawaban Matematika yang disalahkan ini.

Soal Matematika 4x4x4x4x4x4=4x6 adalah salah, dan seharusnya 6x4
terletak pada Pemahaman/ meaning untuk mendapatkan hasil.
-Jika digunakan Aturan untuk mendapatkan hasil 6x4 adalah benar
-Jika digunakan Cara untuk mendapatkan hasil 4x6 adalah benar

Menurut Yohanes Surya , seperti dikutip Tribune News

Yohanes Surya memberi sebuah soal sederhana. Ada dua kotak yang berisi empat buah jeruk. Berapa total jumlah jeruk? (Baca: 6 x 4 atau 4 x 6? Ini Penjelasan Sederhana dari Yohanes Surya)

Yohanes mengungkapkan, caranya bisa dengan menganggap bahwa perkalian adalah penjumlahan berulang. Dengan demikian, untuk mengetahui jumlah jeruk, dalam Matematika bisa dikatakan 4+4, bisa juga dikatakan 2x4.

Dari situ, bila diminta mengekspresikan 4+4+4+4+4+4 dalam perkalian, maka jawabannya adalah 6x4. Itu bukan soal benar salah, melainkan kesepakatan dalam mengekspresikan aturan penjumlahan berulang dalam perkalian.

Pemahaman aturan dalam mencapai hasil sangat diperlukan bagi setiap pembelajaran. Hal ini dimaksudkan  agar peserta didik dapat mengikuti proses untuk mendapatkan hasil. Penerapan ini tentunya akan berguna di kehidupan nyata nantinya, dimana peng-aplikasian-nya tidak semata-mata berorentasi pada hasil. Jika kita tahu maksud dari soal tersebut dan mengikuti sistem yang berlaku otomatis kita akan mendapatkan hasil yang baik.

Menurut Pendapat Seorang Teman Made Megawati dalam salah satu postingannya di Facebook, mengatakan :

sebenarnya kalo meurut saya bukan salah guru karena yg perlu dipahami adalah suatu "konsep" bukan hanya menghapal saja perkalian. karena ketika diaplikasikan dlm kehidupan sehari hari memang pemahaman konsep sangatlah penting. misal dlm dunia kedokteran saja (yg memang bidang saya) kita menulis resep obat A 3X1 itu berarti 1 butir obat A yang harus diminum 3X dalam waktu berbeda dalam sehari (itupun 24 jam dibagi 3 bukan 3 kali minum obat berdekatan waktu). Bukan malah 3 butir obat A diminum dalam 1 waktu walaupun sama kita minum obat jumlahnya 3 juga tapi efek yg dihasilkan sangat jauh berbeda ,paham kan maksud saya? jadi jangan terburu buru mencari kambing hitam salah2an pake narik Kemendikbud tapi buka logika pahami maksud dari soal tersebut.....mari kita sama2 belajar 



“ Semoga dari hal ini kita dapat lebih menghargai aturan dalam penerapan sistem yang berlaku, sebab dengan aturan kita lebih menghargai proses itu sendiri “ . - Penulis

KEMBALI KE ARTIKEL
1 comments
Memori 90-an


“Yang kecilnya di era 80-an kayaknya lagi pada demam memory masa kecil nih kayaknya. emang masa kecil era 80 an sampai awal 90 an itu something banget... sayang ini berakhir ketika era reformasi tiba...... pertengahan 90an - sekarang masa kecil mereka jadi sucks. IPAD, SMARTPHONE, MOBIL, MOTOR, BANGUNAN2 telah merenggut lahan permainan mereka. dulu anak kecil bisa maen di mana aja mereka mau. Para orang tua pun tidak perlu khawatir keamanan mereka. Main di kala malam hari menjadi hal yang amat menyenangkan atau bahkan ketika hujan tiba berlari kesana kemari di jalanan sambil buka baju bahkan terkadang telanjang tanpa takut ketabrak Mobil atau Motor......hhhhh...... missed that momments.
di kala itu Presidennya masih Soeharto atau kita biasa sebut dia cing ato... bhakakakakakaka” – Wisarobo Jati Paratomo @ Facebook


Era 90 an  masa dekade itu sekarang lagi menjadi trending topic di berbagai sosial Media. Bagi kebanyakan orang yang lahir di tahun 80-an tentu akan mempunyai kenangan di tahun 90-an. Di mana kita bisa bermain di waktu malam dengan rasa aman. Rasa kekeluargaan yang begitu erat tercipta di kala itu....

Menguntip tulisan status dari seorang teman SMA 90 Jakarta, Wisarobo Jati Paratomo @ Facebook membuat saya mengingat masa itu. Saya yang terbiasa bermain basket dengan teman se kompleks, tak umpet kaleng, hingga bermain karet dengan anak cewek di SD Cenderawsih III Deplu, Jakarta sepertinya jarang melihat lagi kegiatan itu pada anak zaman sekarang. Gadget adalah menjadi hal yang penting dimana Induvidualitas tampak pada generasi Muda kita jaman sekarang.

Pernahkah anda bayangkan ? Ketika anda makan dengan keluarga anda, yang dilakukan pertama kali adalah Up date status di Sosial Media.... Tidak ada lagi rasa kebersamaa pada Quality Time kita yang hanya sebentar, itupun harus berkurang dengan kesibukan melalui Gadget masing-masing. Sedih juga rasanya.....!!!

Komersialisasi juga terjadi di setiap lini kehidupan. Bidang Pendidikan sebagai cotohnya. Label bertaraf Internasional rasanya menjadi kebanggaan sendiri dalam menentukan Pendidikan bagi anak mereka. Jika tidak disekolahkan di sekolah yang mempunyai label Internasional rasanya tidak bergengsi dan kurang berkelas. Semua anak dituntut harus menguasai bahasa Internasional, bahkan must better than Bahasa as Mother Languange. Selain itu Sekolah Internasional dianggap mempunyai tingkat keamanan yang lebih baik dibanding sekolah Negeri. Barulah Orang Tua menyadari ketika kasus Bullying melanda Jakarta Internasional School, bahwa ternyata tidak ada yang aman dalam pengawasan bahkan di Sekolah Internasional. Herannya lagi Sekolah Negeri juga berlomba dalam mencantumkan kompetensi sebagai Sekolah Berstandar Internasional, bukan hanya Sekolah Negeri Unggulan, Sekolah Negeri di desa entah berantah juga mencantumkan hal yang sama. Seolah setiap Guru sudah mempunyai standar kompetensi yang mumpuni untuk mampu mengajar dengan cara Internasional.....

Di dunia musik,...... ini yang paling memprihatinkan. Pernahkah anda mendengar musik Indonesia tahun 90-an. Pada jaman itu musikalitas Indonesia sangat baik. Di banding sekarang yang hanya menuntut komersialisasi.....Bandingkan saja beberapa album DEWA yang hadir dimasa dekade itu akan sangat berbeda musiknya jika dibandingakan dengan Album Dewa era 2000-an. Musik Dewa sempat menjadi ikon bagi anak muda pada masa itu. Masa lagu Melayu yang tidak meng-Indonesia, zaman Boy Band Girl Band ala korea telah menghancurkan kualitas musik Indonesia. Memang tidak semua melakukan Trend, musik Indonesia juga masih menunjukkan idealismenya Anggun, Agnez Mo, Tulus, Raisa, Afghan, Glen, Sandhy Sandoro dan Tompi juga mampu membawa Indonesia sebagai penyanyi mumpuni di mata Internasional......

Di dekade itu yang paling berkesan lagi adalah Anak Mas, makanan ini susah sekali di dapat pada zaman sekarang. Di berbagai Swalayan saya telah mencari makanan yang menjadi kenangan SD ini. Makanan yang formatnya semacam Mie Instant dicampur dengan bumbu keju menjadi jajanan wajib saya sehari-hari. Mungkin makanan ini tergurus dengan kemajuan penyajian makanan yang beragam, Anak-anak sekarang lebih memilih Sushi, Roti khas Bread Talk maupun Toul Des Jours sebagai jajajan sehari-hari. Sedih Banget .....!

Game Gadget yang In pada waktu itu mungkin adalah Game Console Atari, Nitendo, dan berlanjut ke Sega. Masih inget permainan utamanya...... Atari - Pac Man, Nitendo - Super Mario Bros, Sega – Sonic dan semuanya nggak bisa di Save jadi kalau mau main harus dari ulang lagi.... Baru di akhir tahun 90-an muncul PS One – dengan Winning Eleven sebagai kegemaran anak-anak pada waktu itu. PS One ini yang menjadi cikal bakal Anak Indonesia sekarang menajdi autis dengan Game.....Masih inget banget kalau main biasanya Saya dan teman-teman bergerombol. Terkadang itu membuat kami saling bertengkar lalu baikkan kembali. Namanya juga anak-anak....

Acara Televisi Full House dan Takeshi Castle sering diterapkan oleh Saya dan teman-teman. Kalau Saya bermain  di dalam rumah dengan design Full House alhasil rumah jadi berantakan bak kapal pecah, tapi Saya dan teman-tema di ajarkan team work yang baik sehabis permainan ini. Begitu juga dengan permainan Takeshi Castle.

Jaman 90-an yang paling in bagi saya......
- Main Tak Umpet Kaleng
- Main Tak Besi
- Main Tak Jongkok
- Main Karet
- Main Benteng
- Main Gambaran
- Main Gelembungan
- Desain  dan Main Permainan Takeshi Castle dan Full House
- Main Basket
- Kumpulin Kartu Basket kalau  ada Kartu Jordannya wajib diserahin ke Teman  
  Namanya BambangHariyanto he...he...he....
- Main Tamiya ...... sering dikibulin ring besi ala Pademangan
- Koleksi Saint Seiya, terinspirasi film dan action figure Ryu, Seiya, Yoga, dan
  Seina
- Game Nitendo dan Game Boy
- Game Sega
- Game Tamagochi
- Game Watch Tetris
- Pager
- Punya sepatu LA-Gear yang bisa kerlap-kerlip
- Punya Roller Blade
- Band Dewa
- Band Kla Project
- Band Slank
- Band Gigi
- Snack Anak Mas
- Permen Kojek Jagaon Neon
- Kerupuk Upil Bumbu
- Permen Karet Lotte
- Judi ager-ager

Kemajuan Teknologi telah membawa dampak yang luar biasa di lini kehidupan kita. Rasa Induvidualisme dan jiwa Oppurtunis mungkin juga beradaptasi dengan anak-anak kita sekarang. Kemajuan ini bukan berarti tidak mempunyai dampak postif bagi kita.... Banyak orang-orang yang menjadi kreatif dan bahkan menjadi terkenal akibat kemajuan Teknologi khususnya di bidang Informasi.....Layaknya pisau bermata dua, peranan Orang Tua dituntut lebih banyak dalam melakukan pengawasann perkembangan anak dengan Teknologi. Semoga kita dapat meminimalisir segala hal negatif dari kemajuan dan perkembangan Teknologi.....

Penulis :
Pangki Pangluar
kembali ARTIKEL 
0 comments
Joglonekarto





Teriknya Matahari tidak membuat kami berhenti untuk melanjutkan perjalanan ke Rumah makan ini.....

Siang itu, Minggu 31 Agustus 2014, sepulang dari gerak jalan PT. INKA (Persero) kami memutuskan untuk melanjutkan wisata kuliner. Joglonekarto adalah sebuah rumah makan yang terletak di Jl. Raya Takeran – Madiun, 15 Km dari pusat Kota Madiun. 
Restauran ini menjual Konsep Tradisonal dengan sawah sebagai latar belakangnya. Jadi ada beberapa bagian tempat makan, di mana di bagian terakhir adalah sawah. Konsep ini memang sengaja dibuat oleh pemiknya, karena mengingat banyaknya pengendara yang singgah di tempat ini, dan merindukan suasana sawah pedesaan ketika di kampung halaman. Jl. Raya Takeran adalah sebuah jalan lalu lintas yang cukup padat dan mempunyai akses langsung ke Jl Raya Madiun – Ngawi.

Di bagaian belakang tampak bangunan Joglo lengkap dengan Kereta Delmannya. Ini menandakan bahwa Rumah Makan ini sengaja menjual konsep Etnik dan Tradisonal pada setiap sisinya. Belum lagi di tambah ukiran Jawa di atas langit-langit Joglo rumah makan ini. 

Harga makanan dan minuman yang disajikan oleh restauran ini cukup murah berkisar 8.000 – 25.000,- untuk makanan dan 5.000 – 12.000.- untuk minuman. Yang menjadi rekomendasi kami adalah Minuman Juice Buah Naga yang dicampur dengan perpaduan Es Selasi dan Bebek Goreng untuk makanannya. Kelezatannya bisa anda dapatkan sebagai referensi Wisata Kuliner Anda..








Foto : 
Kodak Easy Share M 530
Kembali Ke : 
Artikel


0 comments
THE COLOUR OF INDONESIA
ENTER
MASUK